Tampilkan postingan dengan label Sejarah kerajaan Linge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah kerajaan Linge. Tampilkan semua postingan

Gajah Putih dan Kerajaan Linge Di Gayo


Saat Sengeda menjinakkan gajah putih, dan menyerahkan kepada Sultan. Sengeda membongkar kejahatan Raja Linge XIV yang telah membunuh abangnya Bener Merie. Sultan Murka. .

Junus Djamil dalam bukunya yang berjudul “Gadjah Putih” yang diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Atjeh tahun 1959 di Kutaradja, antara lain telah menulis tentang “Riwajat asal usul
wudjudnya Gadjah Putih di Keradjaan Atjeh” yang berhubungan denganberdirinya Kerajaan Linge di daerah Gayo.
Sumber tulisan ini berasal dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesen dan dari Zainuddin yaitu raja dari Kejurun Bukit yang kedua-duanya pernah berkuasa sebagai raja di daerah Gayo Laut pada masa kolonial Belanda dahulu.Tahun 1025 di Gayo berdiri Kerajaan Linge pertama. Rajanya namanya “Kik Betul” atau “Kawee Teupat” menurut sebutan
orang Aceh pada masa berkuasanya Sultan Machuclum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak sekitar tahun 1012-1058.
Raja Linge ini mempunyai 4 orang anak, tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu
Beru, kemudian anaknya yang lain adalah Sebayak Lingga, Meurah Johan dan Meurah Lingga ketua adalah laki-laki. Sebayak Lingga berkelana ke daerah Karo dan membangun negeri di sana.
Meurah Johan mengembara ke daerah Aceh Besar dan juga membangun negeri di sana yang dikenal sebagai Lamkrak dan Lam Oeii (Lamoeri) sedang Meurah Lingga tetap tinggal di Linge yang selanjutnya menjadi Raja Linge turun-temurun.
500 tahun kemudian, sekitar tahun 1511, diketahui seorang raja keturunan Raja Linge yang dikenal “Gajah Putih dan Kerajaan Linge Di Gayo” sebagai Raja Linge ke XIII. Raja ini terkenal, karena selain kedudukannya di Tanah Gayo, ia juga orang penting di pusat Kerajaan Aceh.
Bukan itu saja ia juga orang penting di kerajaan Johor di semenanjung Tanah Melayu.
Saat Portugis merebut Kerajaan Malaka tahun 1511, Sultan Mahmud Syah dari Malaka terpaksa mengundurkan diri ke Kampar di daerah Sumatera. Keluarganya diungsikan ke Aceh Darussalam. Dalam keadaan yang sulit ini Kerajaan Aceh ikut membantu Raja Malaka tersebut.
Hubungan kerjasama ini berkembang demikian rupa hingga terjadi suatu perkawinan politik
antara Kraton Aceh dengan Kraton Malaka. Putra Sultan Malaka bernama Sultan Alaudin Mansyur Syah dinikahkan dengan seorang putri Kerajaan Aceh. Sebaliknya, seorang putri Sultan Malaka dikawinkan pula dengan seorang pembesar Kerajaan Aceh, ia adalah Raja Linge ke XIII yang duduk dalam staf Panglima Besar Angkatan Perang Aceh (Amirul Harb) sejak Sultan Aceh berjuang mengusir Portugis dari daerah Pase dan Aru.
Karena kedudukannya yang penting dalam Kerajaan Aceh, maka kedudukannya sebagai Raja Linge diserahkan kepada anaknya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di Tanah Gayo. Tahun 1533 terbentuklah Kerajaan Johor baru. Dipimpin oleh Sultan Alaudin Mansyur Syah. Raja Linge XIII duduk dalam Kabinet Kerajaan Johor ini sebagai wakil dari Kerajaan Aceh. Dalam rangka membangun dan mengembangkan Kerajaan Johor baru, di samping menghadapi kaum penjajah Portugis, Sultan Johor menugaskan Raja Linge XIII membangun pulau di Selat Malaka yang termasuk wilayah Kerajaan Johor yang dikenal kemudian sebagai “Pulau Lingga”.
Selama Raja Linge XIII membangun Pulau Lingga. Ia punya dua orang anak lelaki, bernama “Bener Merie” dan adiknya bernama “Sengeda”. Di Pulau Lingga ini kemudian Raja Linge XIII meninggal dunia. Setelah meninggalnya Raja Linge XIII, istrinya yang berasal dari Kraton Malaka itu, pindah ke Aceh Darussalam dengan membawa kedua anaknya yang masih kecil Bener Merie dan Sengeda. Ketika keduaduanya menginjak dewasa, barulah ibunya memberi tahukan asal keturunan ayahnya di Linge Tanah Gayo. Abangnya yang tertua menjadi Raja Linge XIV di negeri Linge menggantikan ayahnya.
Bener Merie dan Sengeda kemudian berangkat ke Tanah Gayo menemui abang dari ayahnya yaitu Raja Linge XIV. Malang nasib mereka, kedatangannya tidak diterima dengan baik oleh Raja Linge XIV, mereka dituduh telah membunuh ayahnya Raja Linge XIII. Kedua - duanya dijatuhi hukuman mati.
Bener Merie atas perintah Raja Linge XIV dibunuh, sedang pembunuhan Sengeda ditugaskan kepada Raja Cik Serule. Tetapi Raja Cik Serule tidak mau melaksanakan tugasnya, Sengeda disembunyikannya sehingga terlepas dari pembunuhan. Peristiwa ini terjadi pada masa Sultan
Aceh Alaidin Ria’yah II sedang berkuasa di Aceh tahun 1539-1571. Dalam suatu upacara di Kraton Aceh, yang dihadiri oleh seluruh raja-raja Aceh, Sultan memerintahkan kepada mereka untuk mencari “Gadjah Putih” yang dikabarkan terdapat di hutan-hutan Tanah Gayo, untuk dipersembahkan kepadanya.
Sultan akan memberikan hadiah kepada siapa yang menangkap dan menyerahkan gajah putih tersebut kepadanya. Walaupun dengan rasa kecewa Raja Linge XIV menyiapkan perutusan ke Darussalam untuk mempersembahkan gajah putih tersebut kepada Sultan. Dia tidak mengetahui bahwa yang menangkap gajah putih tersebut adalah Sengeda yang telah diperintahkannya untuk dibunuh. Upacara penyerahan gajah putih keadaan Sultan di Kraton Aceh, gajah putih yang semula direncanakan diserahkan oleh Raja Linge XIV kepada Sultan, gagal.. Gajah putih tersebut mengamuk, tidak mau dituntunnya. Sifatnya yang biasa jinak
telah berubah menjadi berang dan ganas, gajah putih mengejar-ngejar Raja Linge XIV. Raja ini hampir tewas saat gajah putih itu mengamuk.
Sengeda kemudian dapat menjinakkan gajah putih tersebut. Ia selanjutnya menyerahkannya kepada Sultan dengan tenang. Hal itu mengundang keheranan khalayak yang hadir. Sultan menanyakan apa rahasianya, saat didesak seperti itu, Sengeda terpaksa membongkar rahasia
kejahatan Raja Linge XIV yang telah membunuh abangnya Bener Merie. Mendengar keterangan Sengeda, Sultan murka. Ia segera memerintahkan menangkap Raja Linge XIV. Kemudian diajukan ke pengadilan dan dijatuhi hukuman mati.
Tetapi beruntung, bagi Raja Linge XIV, dia tidak jadi dihukum mati, karena ibu Sengeda dan Sengeda sendiri memberi maaf kepadanya di muka pengadilan, sehingga Sultan membatalkan hukuman mati tersebut. Hukumannya kemudian diperingan, ia diturunkan pangkatnya dan harus membayar Diyat atau semacam Denda. Setelah peristiwa gajah putih ini, Sultan mengangkat Sengeda menjadi Raja Linge ke XV menggantikan Raja Linge XIV yang khianat itu.
Kisah lain mengenai peristiwa “gajah putih” dan kisah “Sengeda” adalah versii yang ditulis seorang penyair Gayo bernama Ibrahim Daudi atau yang lebih terkenall Mude Kala dalam bentuk syair bahasa Gayo. Jalan ceritanya hampir sama. Namun, isinya jauh berbeda.
Perbedaan terpenting adalah, menurut tulisan M. Junus Djamil kisah “gajah putih” dan Sengeda
tersebut berhubungan dengan pengangkatan Sengeda menjadi Raja Linge XV, sedangkan kisah
dalam bentuk syair Gayo versi Mude Kala, kisah atau legenda gajah putih dan kisah Sengeda tersebut berhubungan dengan pembentukan “Kejurun Bukit” di Gayo Laut.
Menurut versi Mude Kala, karena jasanya menemukan gajah putih dan membongkar rahasia pembunuhan terhadap Bener Merie, maka Sengeda diangkat menjadi Raja Bukit pertama di Gayo Laut. Sengeda dianggap sebagai keturunan raja-raja Bukit selanjutnya.


Referensi : (Dari berbagai sumber)

Read more »

Sejarah Kerajaan Linge Dalam Tulisan Tangan Hamzah

Kerajaan Linge atau Kerajaan Islam Linge memang masih diliput misteri. Dikemas dalam bahasa adat gayo, seperti melengkan, saer, didong serta dongeng. Secara ilmiah, masih sangat minim meski penulis sekaliber antropolog Amerika, John R Bowen, pernah menulis sekelumit tentang gayo, dalam bukunya, Sumatran Politics and Poetics, Gayo History, 1900-1989.

Sebagai Antropolog, John R Bowen yang kemudian mengganti namanya menjadi “Aman Genali”, menulis sejarah gayo dalam bukunya setebal 298 dengan hard cover dan kertas yang bagus, secara antropolog.

Dalam pengantar buku Bowen di halaman belakang cover, dituliskannya, “When small-scale societes are intregrated into larger spheres of authority, their key cultural form are often reshaped.

In this book, an anthropologis analyzes political and cultural change among the Gayo, a Muslim people numbering about 200.000,- who live in the highland of northern Sumatera. John R. Bowen , who lived among the Gayo and is fluent in their language, shows how their successive absorption into both colonial and postcolonial states has led them to revise their ritual speaking, sung poetry, and historical narrative.

Berbeda dengan Bowen, di tahun 1984, tepatnya 1 Januari, Hamzah , menuturkan silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Ling ke Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit Simpang Tige.

Catatan sejarah Linge ini saya dapat dari Ketua MANGO (Majlis Adat dan Kebudayaan Gayo), Mustafa AK, Selasa (18 Agustus 2009), dirumahnya di Kala Kebayakan. Menurut Mustafa AK, dia mendapatkan catatan sejarah Linge ini dari keluarga Hamzah.

Karena Hamzah sebagai keturunan Reje Linge sudah wafat. Hamzah menulis Sejarah dan silsislah Kerajaan Linge ini Tanggal 1 Januari 2009. Hamzah menyebut dirinya selaku Kwali (Wali) dan penitir (penulis).

Jika melihat kopian Sejarah Linge yang ditulis Hamzah, paling tidak ada delapan halaman. Namun tidak diberi tanda mana halaman satu hingga delapan. Masing-masing halaman sepertinya berdiri sendiri, tidak nyambung ke halaman lain.

Melihat apa yang ditulis almarhum Hamzah, tampak jelas Hamzah sangat pinter karena menitirkan sejarah kerajaan Linge – Negeri Antara disertai dengan Kompas, gambar kerajaan Linge dengan rincian, peta buta, denah dan struktur silsilah.

Saya coba menggambarkan masing-masing halaman meski tulisannya dalam kopian yang say abaca sudah banyak yang kabur. Simak di salah satu halaman ini, dituliskan judulnya Batas Kerajaan Linge Negeri Antara. Hamzah membuat gambar Bintang bersudut delapan.

Bagian atas Bintang (penunjuk arah) yang digambar Hamzah ditulis (Utara) Karakurum (Mongolia) Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), bagian Timur berbatasan Pas epek (Pasific) dan bagian Barat Kerajaan Linge Negeri Antara berbatasan dengan Latamadagaskar.

Diluar tulisan bintang yang menunjukkan arah bersudut delapan ini ditulis melingkar Pulo Perca. Dibawah peta ini ditulis “Pulau Perca (Asia)”.

Dalam keterangan ditulis Hamzah , Sebelah Utara berbatasan dengan Karakurum (Mongolia), Sebelah Selatan berbatasan dengan Antara Sara Ketike (Antartika), Sebelah Barat berbatasan dengan Latamadagaskar (Afrika) dan Sebelah Timur Berbatasan dengan Pas-epek (Pasific). Tulisan vocal e pada pasepek, diberi tanda garis diatasnya.

Dalam lembar yang sama (satu halaman) Hamzah juga menggambar Umah Pitu ruang yang merupakan rumah panggung. Di gambar ini, Hamzah juga membuat Bintang Tujuh di bagian atas rumah sebelah kiri. Laut dengan perahu bertuliskan Perau (perahu) Bujang Genali. Hamzah juga menulis gambar segitiga kerucut yang berjumlah tujuh dengan tulisan Pemulang Pitu Perkara. Kemudian gambar berbentuk setengah lingkaran yang bertuliskan Kal Pitu Mata.

Juga ditulis Lapan Johor Pitu Aceh

Reje di Kedah , Pahang

Kedah Ling, Kedah Malaka.

——-

Di halaman lainnya, Hamzah menulis tikamnya) Moyang Karang Putih Kunyur (penikam Gajah) ari Buntul Kung.

Ter (berputar-putar) bergelung Ke-Asampe terus ke Umang (Utara) terus berpusing I (Timur) Jatur Kunyur ini di Hutan Rimba Bukit kunyur (Lembing) menanda di buka (Negeri) yang dipugar.

Masih di halaman yang sama, Hamzah menggambar rumah. Sepertinya juga Umah Pitu Ruang. Dilingkari tulisan Gelung Perajah. I bagian atas rumah ditulis Asam Perege (Barat). Tiur Kala Ili. Umang (Utara). S

Bagian Selatan tidak terbaca.

Mla Hoya Hoya
Belalang kupu-kupu

Tepae gelang puntu

Anak mane rebutne ari pumungku

Aku gere pane bersebuku

Wassalu wale hak-hak (Selawat nabi)

Sakku rio – rio hak-hak (enti sok ko enti rie)

Uru-urum dewe uton

Pancang Uten tertene

Nama terku
Padehne

Tom imo muk-muken wan uten so 3 X

Ane guel repa’i

Tari sakit awak

One kin ulu kudi

Ungi tareng ungak

Sing-sing ngak kesing ungi taring ungak.

Selanjutnya di halaman lain catatan Hamzah yang ditulis tangan ditulis ;

Pendari Siopat Reje Linge :
Cik Serule (Surul) Seru Lo (Lao)

Cik Beno I Penarun (Penosen) Kayu Pena

Cik Gelung Perajah I Gewat (Kunyur Pegajon

Cik Dah (Kedah) Ishak (Abd.Malik Ibrahm Ishak)

Opat Mudunie Pertama (Mulo Ara Denie)
..Ama Linge (sebelum tulisen ama linge, tidak terbaca. Saya buat titik-titik)

..Serule (Surul) Seru lao (Hari gembira)

..Pena (Kayu I penurunen kin umah Pitu Ruang)

Takengon Lut (Takengon Lut)

Opat Mudenie Kedue
..ma Serule Mulo Demu ( awal-awal warna ni bene-bene)

.. e Linge Mulo Ara (Asal Kerpe Jemarum murip)

..ak Kapal Iturki (Kapal Nabi Olah Nus AS)

..ri Rum Teridah (Baru kering Lut Lilin)

Opat Mudenie Ketige (Ketige Dunia Nampak)
..ma Reje Linge (Mulai ada raja)

..e Reje Bukit (Kebayakan)

..e Reje Patiamang (Blang Kejurun) Blang Kejeren

Opat Reje Nabuk (Merah Abuk) Lukup

Opat Mudenie Keempat (Reje-Raja)
…ma Reje Linge (Ishak)

..e Reje Bukit (Kebayakan)

Kejurun Nosar (Samar Kilang)

..Cik Bebebsen (Ayu/baru dilantik ari (dari)/Lumut (Sibolga) sisa yang tinggal kejadian..g kur Ujung Pejudin (Kute Bedarah) sisa 27 orang

Mukekawalan : 7 Linge Jadi Pengawal
(+ Selingen) di Loyang Daratan Cina

(Kalingga) di India

(Lingayen) di Filipina

(Tambra Lingga) di Malaka

(Lobok Lingga) Lubuk Linggau Sumatera Selatan

(Kota Lingga) di Kalimantan

(Purbalingga) Probolinggo di Jawa Tengah

Mukekewalan Diluar Bathin
Mata kanan (1)

Mata kiri (1)

Telinga Kanan (1)

Telinga kiri (1)

Hidung Kanan (1)

Hidung kiri (1)

Mulut (1)

Mukekawalan Lahir : Pada Diri
Sujud pada Khaliq (semah)

Tangan kanan sujud (semah)

Tangan Kiri sujud (semah)

Siopat Mudunie Batin (Dalam Diri)

1.Ate (hati) Tanoh-Mulut
2.Lempedu (empedu) Wih (air)- mata
3.Jantung (Rara) api-Telinga (kuping)
4.Sosop (Kuyu) angina – Hidung (Yung)

Terjadi Ari Siopat

1.Tanoh Pintu Gerbang awah (mulut) tanah
2.Wij (Air) Pintu Gerbang Mata
3.Rara (api) Pintu Gerbang Telinga
4.Angin (Kuyu) Pintu Gerbang Yung (Hidung)

Pemindahan Melayu Tue Linge

a.Pulau Lingga di Riau (Panglima Lingga) berkubur disana. Bapaknya Moyang Meriah dan Sengeda (Menjadi Gajah Putih)
b.Probolinggo (Jawa Timur) dibuka Wali Sembilan (Songo) dari Linge Isaq
c.Linge Garut Jawa Barat
d.Lingga Raja di Karo (Gunung Sibayakku lagu si lungun (Simalungun) Kabupaten Karo (Karo-dikejar)

Kute (Kota)
Kute Reje Linge (Delung Sekinel)

Kute Reje (Banda) Aceh) dibawa oleh Merah Johan Sultan Pertama di Aceh

Anak Reje Linge Istri Putri Ning Lian …

Masih satu halaman dengan keterangan diatas, Hamzah kembali membuat gambar penunjuk arah (Kompas) tentang Batas Reje Cik Gelung Perajah

Uken (Asam Perege) (Barat-Red)

Kutoa (Kala Ili)(Waq) Linge(Timur- Red)

Kupaloh (Burni Unyur2) (Selatan)

Ku-Bur (Umang) (Utara)

Catatan, di bagian (Kutoa) (Kala Ili) (Timur) ditulis penyelusuran dari Kuala Beukah Aceh Timur.

Masih di halaman ini, Hamzah membuat peta Tanah Gewat + Kedah (Dah) Isaq + Kedah Ishaq (Linge) Kedah Malaka , Kedah Kutereje (Banda Aceh) . Peta ini tidak saya buat karena banyak tulisan yang kabur . Didalam peta ini tertulis lokasi, nama tempat, sungai, jalan raya, Kampung.

——-

Pada Halaman berikutnya tulisan Almarhum Hamzah yang dibuatnya 1 Januari 1984, Hamzah menulis Silsilah. Yaitu Silsilah Keturunan Syeh Abdurrauf Fansuri (Syiah Kuala) Entah atau Muyang Kute dari Delung Sekinel Kutereje Linge Ke-Delung Tue Reje Guru Kecamatan Bukit S

Simpang III (Kabupaten Bener Meriah).

I. Tuen Ta’ Umar

II. Baginda Saleh

III. Jana Katib Tue

IV. Jana Katib Mude

Dari Tuen Ta’ Umar , turunan Pertama adalah Syeh Abdurraub (mungkin Abdurrauf) Fansuri Syiah Kuala , Entah, Muyang Kute, Datok Guru.

Blang Jorong Kecamatan Bandar adalah lokasi kuburan Syiah Kuala Kute Teras.

Panglime II—Genting Rappe (Kerampe)

Guru Morang (Situmorang)

Panglime III

Merah Genting

Panglime IV

Bener Kelipah

Panglime I

Guru Merut (Dikubukan hanya Rab)

Panglime V

Gempar Alam

Diantara Gempar Alam kanan dan kiri Adalah kuburan Umum (di Lokasi kuburan Blang Jorong).

1 (satu) sampai dengan Lima inilah Panglima Sekinel delung Linge Gayo Abad ke-17, mengelilingi Barus setelah ditangkap panglima Batak ini, sujud kepada ilmu Syiah Kuala dan mengelilingi seluruh Aceh dengan panglima yang lima orang ini berangkat setiap pergi jumlah kuburan Syiah Kuala 44 buah isinya kosong.

Diwasiatkan kuburannya :

1.Atan Buntul (diatas Bukit Kecil)
2.Tuyuhni Atu (dibawah batu)
3.Pake Rak (Parit) kelilingi
4.bagian Atas ada Rumah (Tuyuh Keleten)
——–

Silsilah Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute
Syeh Abduraub memiliki dua istri. Istri Tue Delung Tue. Istri Mude Reje Guru. Dari istri tue lahir tiga anak. I. Muyang Ulu Tanoh Belang Kejeren. II. Muyang Mang Lho Seumawe.III Muyang Petukel Blang Jorong.

Muyang Ulu Tanoh Blang Kejeren tidak ditulis keturunannya. Hanya disebutkan keturunan di Belang Kejeren dan Meulaboh.

II. Muyang Mang Lho Seumawe-Muyang Kelowang—Bayu-Reje Banta-Abd Latif Aman Maryam-M.Yunus.

III Muyang Petukel Blang Jorong-Muyang Mungkur Isaq- Muyang Pase-Muyang Peterun-Dik La’i-Tgk. Mahmudin-Jakfar A. Guntur.

Dari Istri kedua Syeh Abdurraub Fansuri Muyang Kute, yakni Reje Guru-Muhd. Jewe Muyang Beram Lho Seumawe-Datu Penacih Bintang-Mukmin Tgk Bernun. Mukmin Tengku Bernun memiliki dua keturunan, M. Kuali dan Tengku Tapa.

M.Kuali memiliki keturunan Mohd Syeh Reje Guru dan Sulaiman. Muhammad Syeh Reje Guru memiliki dua istri. Anak dari istri Tua Syeh Reje Guru adalah (1) Keruh Reje Daud, (2) Inen Aminah, (3) Semi’ah Inen Catur , (4) Rani Inen Tetunyung, (5) Rukah Inen Banta.

Dari istri kedua Muhammad Syeh Reje Guru, ( 1) Jernih, Midah I Mude Entan (I), Bujang ( Syiah Kuala)…Bukit Muli. Dari Bujang (Syiah Kuala) (I) Hamzah Selaku Kuali Mahniar (II) Selamah Mirwan.

Keterangan :
Dikaki Gunung ada dua mata air. Yang satu airnya jernih dan yang satunya keruh. Kualanya ke air panas (Gunung Gerdong). Lahir anak Mohd Syeh (Reje Guru) sekali lahir anak istri tua dan istri muda, maka dinamai 1 Keruh, 1 Jernih.

—————–

Disalah satu halaman lainnya, sebut saja halaman terakhir dari tulisan tangan Hamzah, dia memakai dua halaman buku untuk menuliskan sebuah skema silsilah ,”Kute Kedah Asal Usul Datu Pitu”.

Skema Asal Usul Datu Pitu dimulai dari Adik Sultan Machdum Malik Ibrahim Sultan Perlak Syeh Abd. Malik Ibrahim Hak (Datu Peski) Tahun -80,6 (?) Kuburan di Kebayakan.

Tok Merah Mersa Negeri Isaq (Kuburannya di Belakang Pendopo Bupati Aceh Tengah)

1. Merah Putih (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)

2.Merah Item (Pergi ke daerah Kiran dari Beracan, kemudian bernama Kampung Negeri Merah Due (Mereudu)

3.Merah Bacang Hulu Sungai Seunagon (Senedun)

4. Merah Jernang –pergi ke Barus (Tapanuli)

5. Merah Silu (Malik Ibrahim) –Pergi ke daerah Lukup dan Blang Kejeren. Malik Ahmad (Reje Jempa) pergi ke Jempa Pesangan yang mendirikan Kala Jempa periode II. Malik Saleh =Merah Silu II Reje Pase dan keturunanannya. Malik Abdullah (Raja Jempa) Merah Jepa (Miga) Merah Singkuna dan keturunannya.

6.Merah Pupuk (Pergi ke Negeri Daja)

7.Merah Mege (Yang jatuh kedalam sumur….(Loyang Datu) dekat Kute Rayang dan ditolong oleh seekor anjing.Si Pase anak yang paling kecil….ayahnya Tok Merah Mege..sedangkan sudaranya yang enam orang membiarkannya dalam sumur hingga datang ayahnya mengambilnya sendiri.

Dibawah skema silsilah ini juga ditulis tantang Buntul Linge :

Buntul Linge :
-Linge (Bukit)

-Jamat

-Delung

-Sekinel

-Pertik

-Nasuh

-Tukik

-Kutereje

-Payung

Beno Penarun
-Cik Beno

Owak

-Kerlang

Lot
Kala

Serule
Bukit

Cik

Lot

Gelung Perajah Gewat :
Nalun Gewat, Genting

Pengulu Akim (Tenamak)

Pengulu (Bedak Bale)

Pengulu Mungkur

Pengulu Uning

Pengulu Tiro (Cik Tiro)

Pengulu Bungkuk

Pengulu Owak

Pengulu Lumut

Pengulu Kung

Pengulu Loyang (Gunung) (Akim)

Kedah (Isaq)

Kute Keramil

Kute Meriem

Kute Rayang

Kute Robel

Kute Baru (Kerawang)-Gading-Kemulo-Kala….-Air Asin-Pepumu

Jagong-Gegarang

Gemboyah –Batu Lintang

Keterangan : Dari Sebelah Syeh Andurraub : Persembahyangannya, 1. Batu Mesjid. 2. Buntul Pedim.3. Buntul Uber-uber. 4. Buntul Drakal (Blang Rakal), 5. Buntul Wih Lukup-Buntul Telege (Lut Atas).

Tuen Ta’Umar : Terbang dari Mekah, Jatuk Pangkatnya di Lho Seumawe, sewaktu diambilnya pangkatnya itu terangkatlah dengan tanahnya, maka tanah itu langsung diangkat ke Bur Telong (Gunung Gerdong dan menjadi laut kucak (danau) kecil itu maka rasa air danau itu asin sampai sekarang. Diatasnya ada telaga kecil seperti dibeton dan persembahyangan. Nama pangkat Syeh (Tuen Ta’ Umar yaitu (Belah Kamar)

Datu Peski , Datu Peski (Abd Malik Ibrahi Ishak, kakeknya Merah Mege, kuburannya diats telaga Peski. Sekarang Kuburan Orang Gunung, sebelah Utara Kebayakan (Suami Istri). Dan Merah Mersa dikuburkan di Belakang Pendopo Takengon (di dapur rumah bupati). Dan Merah Mege berkubur di di Dekat Loyang Datu Isaq dan saudaranya yang enam semua melarikan diri membuka negeri masing-masing sebagaimana diatas takut kena ancaman dari Bapaknya dari Bapaknya Muyang Mersa akibat menjatuhkan adiknya kedalam Sumur.

Keterangan lainnya di halaman ini, diterangkan :

Kejurun (Presiden)
Arti Kejurun (Presiden) Juru Mudi

Juru Kemudi, Juru membuka negeri

Juru mengharungi air bah

Reje (Raja, Wakil Presiden)
Arti Reje (Raja) Remalan Jemot, Remalan Jem, Remalan Jamut, Renelen Jemen (Reje)

Dihalaman Asal Usul Datu Pitu ini, disebutkan Penulis Wasiat adalah Raja Cik Gelung Prajah Gewat Mohd. Asa Saleh Abarita (Bertanda tangan),

Banyak orang yang mengeluhkan bagaimana langkanya sebuah buku tentang sejarah Gayo, secara ilmiah atau versi dongeng yang didongengkan pengantar tidur. Itupun dahulu kala. Karena orang tua di Gayo saat ini, tidak lagi pernah mengantar tidur anak atau cucunya dengan “Dongeng Kerajaan Linge”, karena digantikan sinetron.

Misteri Gayo, sejarah , budaya dan peradabannya, memang belum terbuka penuh. Penggalan-penggalan, kepingan data , fakta dan dongeng tentang sejarah Gayo, suhuf –suhuf yang tersebar (istilah Yusradi Usman Algayoni, Mahasiswa S-2 USU Medan , Geo Linguistic ), masih tersebar. Sebarannya bisa dimana saja di Antero Aceh , Indonesia bahkan dunia. Karena saat Van Dalen membantai kawasan pedalaman Aceh Pegunungan, dalam rangka memperluas jajahannya , pasukan Belanda selain mengeksekusi warga Gayo dalam benteng-benteng pertahanan dengan senjata moderen senjata api laras panjang dan pendek, juga membawa barang berharga milik Kerajaan Linge. Bahkan konon, di Museum-Museum Belanda banyak disimpan barang milik Kerajaan Linge atau penduduk Linge. Demikian halnya di Perpustakaan Leiden Belanda, terdapat tidak kurang dari 15 buku tentang Gayo.

Gayo di jaman pra sejarah malah terkuak dan Absolut sudah ada hunian di Dataran Tinggi Gayo (Datiga) , Tepatnya di ( Rock Shelter / Abris Sous Roches Mendale ) Ceruk Mendale, Kecamatan Kebayakan sejak 3500 tahun lalu. Hal ini dibuktikan oleh peneliti Balai Arkeologi Medan (Balar) dengan ditemukannya ‘Batu Kapak Persegi” yang berusia 3500 tahun.

Fakta ini menunjukkan bahwa Ceruk Mendale pernah dihuni oleh peradaban Neolitik 3500 tahun lalu.Akhir – akhir ini, gerakan atau keinginan untuk mulai mengumpulkan kepingan sejarah gayo yang tersisa mulai santer dikalangan generasi muda Gayo. Bukan berarti generasi gayo menjadi rasis atau ekslusif, tapi karena keinginan mengetahui identitas dan tentu saja harga diri sebagai sebuah suku, bangsa yang selama ini dimarginalkan dalam banyak hal. Sayangnya lagi, sebagian generasi gayo lainnya yang permissive, tidak peduli pada identitas diri sebagai “Urang Gayo” yang dikenal sangat demokratis dengan sistim pemerintahan “Sarak Opat”. Pemerintahan yang Demokrasi dan bukan Kerajaan yang turun temurun.

Ada pencerahan sejarah Gayo dari bangkitnya generasi gayo saat ini akan pentingnya sejarah sebagai identitas diri. Bukan hanya sejarah saja, tapi juga upaya penyelamatan “Basa Gayo” yang dikenal sangat lengkap, santun dan berbeda dengan bahasa Aceh umumnya di daerah Pesisir.

Adalah tugas berat selanjutnya untuk kembali menggali , menyatukan kepingan yang tersisa dari sejarah gayo. Ada kemauan , ada jalan. Walaupun diperlukan beberapa generasi kedepan agar rangkaian sejarah tersambung lagi dengan baik dan benar dan tentu saja ilmiah. Bismillah…..

Sumber: http://gayolinge.com/detail/sarasagi/News/242-Sejarah_Linge_dalam_Tulisan_Tangan_Hamzah
Read more »

Benda - Benda Peninggalan Kerajaan Linge

Read more »

 
Powered by Blogger